Pengalaman Pertama Backpacker ke Pulau Sempu Bersama Blakrax

Siang itu cuaca sangat cerah untuk saya dan teman saya pergi ke stasiun Senen, Jakarta Pusat. Ketika itu jam menunjukkan pukul satu siang. Banyak ratusan orang berkumpul di depan pintu masuk stasiun Senen untuk menunggu kereta yang akan berangkat.

Setibanya di Stasiun Senen,banyak para peserta yang ikut trip Blakrax sudah berkumpul di depan Dunkin Donuts. Dari sinilah perjalanan kami dimulai. Jumat 17 Mei 2012, kereta api Matarmaja memberangkatkan saya dan empat puluh peserta pada pukul dua kurang lima belas menit.

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan yang pernah saya rasakan selama naik kereta api. Untungnya, teman-teman Blakrax cukup bersahabat dan ramah meskipun saya sendiri tak begitu kenal mereka. Mereka mencoba mengenal  semua peserta trip. Sepanjang perjalanan, kami bersundau gurau satu dengan yang lain sampai tengah malam. Rasa lelah dan ngantuk membuat kami tertidur pulas.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, kami disambut dengan udara segar dan keindahan Kota Malang. Dan ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kota Apel. Dan ini juga pengalaman saya melakukan travelling. Mungkin kedengarannya lucu, kuno atau apalah, tapi dari sini saya mengenal banyak pengalaman yang belum pernah dapat sebelumnya. Punya teman banyak dan bisa merasakan backpacker bersama.

Sampai di stasiun Malang, peserta bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Pulau Sempu. Bisa dibilang perjalanan ini memang cukup panjang dan melelahkan tapi bisa terbayar dengan keindahan Pulau Sempu yang nggak  bakal terlupakan.

Asiknya menjelajah Pulau Sempu

Pulau Sempu merupakan salah tempat rekreasi yang ada di kota Malang. Untuk sampai ke Pulau Sempu ditempuh jarak 2 jam perjalanan dari stasiun Malang. Cukup melelahkan memang, tapi semuanya itu bisa terbayar dengan keindahan pemandangan yang ada di pulau itu.

Setelah sampai di pulau sempu, kami pun langsung sewa kapal untuk menyeberang ke teluk semut. Jarak antara sendang biru ke teluk semut sekitar 10 menit. Setelah sampai di teluk semut, tracking pun dimulai. Siang itu cuaca cukup panas membuat kami harus beristirahat sebelum memulai pertempuran menjelajah teluk semut sampai menju pantai segara anakan. Tracking dimulai pukul 3 sore. Biasanya tracking untuk sampai ke Segara Anakan membutuhkan waktu 2 jam perjalanan, tapi karena saat itu tanah di teluk semut sangat becek, jadi perjalanan bisa sampai 3-4 jam. Belum sampai 10 menit kaki saya sudah kotor dengan lumpur.

 

 

hemat air

Inilah kami, para backpacker yang nekat ke pulau sempu meskipun saat itu disana sedang becek. Membuat kami sering jatuh dan akhirnya seluruh badan kami dilapisi lumpur kotor. Meskipun begitu, kami tetap senang. Lihat saja meskipun letih kami selalu siap kalau difoto. #senyum-seyum gimana gitu

 

Segara Anakan

Seharusnya untuk sampai ke Segara Anakan tidak membutuhkan waktu lama. Tapi bagi yang masih amatir seperti saya ini membutuhkan waktu lebih lama, bisa 3-4 jam. Itu pun kalau medannya tak cukup berat.

Sayangnya saat itu medan untuk ke Segara Anakan cukup berat, ditambah lagi cuaca yang tak mendukung, musim hujan yang membuat jalanan sangat licin dan banyak lumpur. Bila tidak hati-hati akan terperosok  hingga puluhan centimeter ke dalam tanah.

Melewati medan ini, saya hanya bisa pasrah kalau sering terjatuh. Sekujur  tubuh saya penuh dengan lumpur tanah. Sepanjang perjalanan kita akan diuji dengan medan yang naik, turun, dan naik lagi. Ada beberapa lokasi yang memaksa kita harus menunduk. Untungnya saat itu saya tidak membawa barang banyak, jika melihat kondisi ini yang pasti bakalan lama lagi untuk sampai.

Dengan sekujur belumuran tanah dan keringat bercucuran di kening, akhirnya saya dan peserta lain tiba di Segara Anakan. Sayangnya, saya tidak bisa melihat air laut yang bening berwarna biru kehijau-hijaun itu. Karena saat itu saya sampai sudah larut malam, kira-kira jam 9 malam. Dan saya adalah peserta terakhir yang sampai disana.

Perjalanan ke Segara Anakan bisa dibilang sangat amat lama, mungkin panitianya kurang mengkordinasi peserta yang membuat mereka harus saling tunggu-tungguan. Ya seharusnya, saat sampai di Pulau Sempu dibuat  regu, misalnya satu regu ada sepuluh peserta, di tiap sepuluh regu punya tim leader dari panitia Blakrax. Saya sebagai peserta memaklumin hal itu meskipun sedikit kecewa dengan kurangnya koordinasi. Saya pikir mungkin ini baru pertama kali mereka membuat trip berlibur.

Sampai di Segara Anakan, saya langsung membasahi tubuh dan membersihkan kotoran yang menempel di baju.  Semakin malam semakin banyak orang-orang yang datang untuk berkemah di Segara Anakan. Suasana malam itu semakin ramai kami saling bercengkraman satu dengan yang lain meskipun kami tak begitu mengenal betul. Dari pertemuan ini saya jadi memiliki banyak teman. Lucunya saat di Segara Anakan, ada satu panitia yang terpelosok ke tenda orang. Mendengar cerita itu, saya tertawa terbahak-bahak. Nggak kebayang kalau jadi dia, rasa sakitnya sih nggak seberapa tapi rasa malunya itu lho yang luar biasa.

Ada satu  kejadian yang membuat saya simpatik dengan Tim Blakrax, perhatian mereka yang luar biasa terhadap para peserta. Saat itu badan saya sudah mulai drop akibat kelelahan. Badan sedikit demam dan perut terasa mual. Saya langsung minta minyak angin dan obat. Melihat keadaan saya saat itu, mereka langsung membuat teh manis, membuat makanan dan dikasih obat. Keesokan paginya, badan saya sudah mulai membaik.

Perjalanan Pulang

Sabtu Paginya setelah menikmati pemandangan sunrise di Pulau Sempu yang begitu indah, kami langsung berkemas untuk balik ke Sendang Biru.  Sebelum balik, tak lupa kami membereskan sampah yang berserakan di sekitar tenda untuk dibawa pulang ke Sendang Biru.

Untungnya saat itu cuacanya bagus untuk kami pulang ke Sendang Biru. Perjalanan pulang menempuh selama 2 jam. Perjalanan dilanjutkan dengan perahu yang datang beberapa menit. Sesampai di Pantai Sendang Biru, hal pertama yang saya lakukan adalah membersihkan diri dengan mandi di kamar mandi umum yang kemudian dilanjutkan makan cemilan untuk mengisi perut sebelum mengarungi perjalanan selama hampir 2 jam ke Stasiun Malang dan melanjutkan trip selanjutnya yakni ke Gunung Bromo. The End

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s